Nabi Saleh

Kisah Nabi Saleh alaihissalam bermula di kalangan kaum Samud, yang dikenal dengan kehidupan yang makmur dan sejahtera. Mereka ahli dalam pertanian, peternakan, dan memahat batu. Dengan keahlian memahat yang luar biasa, mereka mampu membuat rumah indah dari batu dan bahkan membentuk gunung menjadi gedung-gedung megah. Semua kenikmatan yang mereka nikmati membuat mereka semakin sombong dan lupa akan Allah. Mereka mulai menyembah patung-patung berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri, menganggap harta dan kemakmuran sebagai segalanya.

Suatu hari, Allah mengutus Nabi Saleh untuk memperingatkan mereka agar meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan kembali menyembah Allah yang Maha Esa. Namun, kaum Samud menolak dakwah Nabi Saleh dan mempertahankan kebiasaan mereka. Mereka meremehkan Nabi Saleh, bahkan mempertanyakan bukti yang bisa menunjukkan bahwa ia benar-benar utusan Allah.

Nabi Saleh pun meminta kepada Allah untuk memberikan mukjizat agar kaum Samud percaya. Allah mengabulkan permintaan Nabi Saleh dengan mengirimkan seekor unta besar yang keluar dari batu. Keajaiban ini membuat sebagian kaum Samud mulai percaya, namun banyak di antara mereka yang tetap menentang.

Al-A’raf Ayat 73:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَمَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah, sebagai tanda untukmu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang pedih.”

Kaum pemimpin yang menentang Nabi Saleh semakin khawatir, dan mereka memutuskan untuk membunuh unta tersebut. Dua pemuda dari kaum Samud yang diberi tugas untuk membunuh unta itu berhasil melaksanakan perintah tersebut. Mereka menggunakan panah dan pisau untuk membunuh unta itu. Setelah unta mati, mereka bersorak gembira dan merasa mereka telah menang.

Namun, Nabi Saleh merasa sedih atas kematian unta tersebut. Ia memperingatkan mereka bahwa jika mereka tidak bertobat, azab dari Allah akan segera datang. Meskipun begitu, kaum Samud tetap menantang dan menolak untuk bertobat.

Beberapa hari kemudian, azab Allah pun datang. Langit mendung, petir menyambar, dan bumi bergetar hebat. Batu-batu besar jatuh dari langit, menimpa kaum Samud hingga hancur lebur. Tidak ada seorang pun yang selamat di antara mereka, kecuali Nabi Saleh dan pengikutnya yang beriman.

Al-A’raf Ayat 78:

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Artinya: Maka mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka

Setelah peristiwa itu, Nabi Saleh melanjutkan dakwahnya ke Palestina dan terus berusaha mengajak umat manusia untuk kembali ke jalan yang benar, meskipun ia sering menghadapi tantangan dan godaan dari iblis yang masih berusaha menggoda manusia.

Kisah Nabi Saleh ini mengajarkan kita pentingnya untuk tidak menyembah selain Allah, serta bagaimana kesombongan dan keingkaran terhadap peringatan Allah bisa membawa kehancuran. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini.