Nabi Ismail
Mukjizat Air Zamzam
Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak nabi, seorang pria yang penuh iman dan takwa. Kekuatan iman beliau menurun kepada anak dan cucunya, sehingga Allah mengangkat sebagian dari mereka menjadi utusan-Nya. Semasa hidupnya, Nabi Ibrahim melakukan beberapa hijrah. Pertama, beliau hijrah dari negerinya ke Kanaan, Palestina, kemudian hijrah lagi ke Mesir. Dalam perjalanan ini, Nabi Ibrahim ditemani oleh Nabi Luth dan istrinya, Sarah, yang merupakan wanita yang taat, sabar, dan penyayang.
Setelah beberapa waktu, Allah mengutus Nabi Luth untuk pindah dan berdakwah kepada kaum Sodom. Nabi Ibrahim kemudian hidup bersama Sarah, meskipun beliau telah dikarunia banyak mukjizat. Nabi Ibrahim juga mengalami ujian yang berat dari Allah, dan akhirnya beliau dikaruniai anak, yaitu Nabi Ismail. Nabi Ibrahim sangat bahagia, namun Sarah, yang belum dikaruniai anak, meminta kepada Nabi Ibrahim untuk menjauhkan Hajar dan Nabi Ismail darinya. Allah menurunkan wahyu agar Nabi Ibrahim mengabulkan permintaan Sarah.
Nabi Ibrahim pun mempersiapkan perjalanan bersama Hajar dan Ismail. Mereka pergi dengan menunggangi unta, melintasi padang pasir yang tandus dan gersang. Setelah beberapa minggu perjalanan, mereka tiba di tempat yang dikenal dengan nama Mekah, sebuah daerah yang tandus dan tidak berpenghuni. Nabi Ibrahim membuatkan rumah untuk berlindung, lalu ia pamit meninggalkan Hajar dan Ismail sendirian.
Hajar merasa takut dan bertanya apakah ini perintah Allah. Nabi Ibrahim mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua. Beberapa hari kemudian, perbekalan mereka habis, dan Ismail kecil mulai menangis karena kehausan. Hajar yang merasa khawatir, mencoba mencari air dengan berjalan cepat. Ia mendaki bukit yang dikenal dengan nama Safa, dan setelah tidak menemukan air, ia turun menuju bukit Marwah. Sayangnya, di sana pun ia tidak menemukan apa-apa.
Dengan penuh keputusasaan, Hajar kembali ke tempat Ismail, yang tangisannya semakin keras. Namun, Allah menurunkan mukjizat-Nya. Ismail kecil, sambil menangis, menghentakkan kakinya ke tanah, dan dari jejak hentakan tersebut muncullah mata air yang sangat banyak. Air itu terus mengalir dengan sangat jernih dan segar. Hajar sangat bersyukur dan memanggil air tersebut dengan nama “Zamzam”. Ia pun menangkupkan tangan untuk mengambil air dan memberikannya kepada Ismail, kemudian meminum air itu hingga kenyang.
Air Zamzam terus mengalir tanpa henti, bahkan dalam cuaca yang sangat panas sekalipun. Mekah yang dulu tandus kini mulai ramai dengan musafir dan pedagang yang datang berkat mata air ini. Hajar terus menjalani hidupnya dengan sabar dan ikhlas, meskipun cobaan datang silih berganti. Suatu hari, Nabi Ibrahim datang berkunjung ke Mekah dan terkejut melihat daerah tersebut telah hijau dan ramai dikunjungi orang. Nabi Ibrahim merasa terharu dan bangga melihat putranya, Ismail, yang kini telah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik.
Nabi Ibrahim kemudian mendapat sebuah mimpi yang membuatnya gelisah. Dalam mimpi tersebut, beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya, Ismail. Nabi Ibrahim merasa cemas, namun Ismail yang melihat kegelisahan ayahnya bertanya apa yang membuatnya gelisah. Nabi Ibrahim menceritakan mimpi tersebut kepada Ismail. Dengan tegas, Ismail menjawab bahwa ayahnya harus melaksanakan perintah Allah, dan ia siap untuk menerima takdir tersebut dengan sabar.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿102﴾
(102) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Nabi Ibrahim pun merasa tenang dengan jawaban Ismail. Sebelum pelaksanaan perintah Allah, Ismail meminta agar tali yang mengikatnya diperketat agar tidak bergerak saat disembelih, serta pisau diasah agar prosesnya cepat dan mengurangi rasa sakit. Ia juga menitipkan baju yang dipakainya untuk sang ibu. Setelah itu, Nabi Ibrahim pun mengikat Ismail dan bersiap untuk menyembelihnya. Namun, saat pisau diangkat, Allah berfirman untuk mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai pengganti.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾
(107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Peristiwa ini menjadi awal mula ibadah haji bagi umat Islam, di mana umat manusia mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sangat ikhlas. Setelah kejadian tersebut, Nabi Ismail semakin tekun dalam beribadah, belajar dengan sungguh-sungguh, dan mengamalkan semua yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ismail kelak diangkat menjadi seorang nabi utusan Allah.
Cerita ini mengajarkan kita tentang keteguhan iman, kesabaran dalam menghadapi ujian, dan pentingnya mengikuti perintah Allah dengan penuh keikhlasan.