Nabi Nuh

Kisah Nabi Nuh alaihissalam dimulai pada masa ketika sebagian besar umat manusia sudah mulai menyimpang dari ajaran Nabi Adam. Meskipun ada beberapa orang yang masih memegang teguh ajaran yang benar, kebanyakan mulai berpaling. Lima orang yang terkenal saleh dan menjadi panutan mulai meninggal dunia, dan dengan kehilangan mereka, kaum tersebut merasakan kesedihan yang mendalam.

Pada saat itulah, iblis memanfaatkan kesempatan untuk menggoda mereka. Iblis menyarankan agar mereka membuat patung untuk mengenang orang-orang saleh tersebut. Seiring berjalannya waktu, patung-patung itu tidak hanya dipandang sebagai kenangan, namun mulai disembah sebagai Tuhan. Mereka yang awalnya setia pada ajaran Nabi Adam mulai tersesat.

Allah mengutus Nabi Nuh, seorang nabi yang cerdas dan sangat kuat imannya, untuk membawa kaumnya kembali kepada jalan yang benar. Nabi Nuh dengan tulus mengingatkan mereka untuk menyembah Allah, karena hanya Dialah yang menciptakan dan memberi rezeki. Namun, meskipun sebagian orang mulai sadar, banyak yang tetap menentang dan menganggap Nabi Nuh hanya manusia biasa.

Di tengah penolakan ini, Nabi Nuh tetap bersabar dan terus berdakwah. Saat dakwahnya tidak diterima, beliau memperingatkan kaumnya bahwa azab Allah akan datang jika mereka terus berbuat dosa. Mereka meremehkan peringatan itu, bahkan meminta bukti langsung berupa azab yang segera datang.

Allah kemudian memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun sebuah bahtera besar sebagai persiapan menghadapi banjir besar yang akan datang. Dengan sabar, Nabi Nuh mulai membuat kapal dan mengajak kaumnya untuk bekerja bersama. Namun, kebanyakan dari mereka mencemooh dan tidak mempercayai apa yang sedang dikerjakan Nabi Nuh.

Ketika peringatan itu terus ditinggalkan, Allah akhirnya menurunkan azab-Nya. Hujan deras turun, disertai dengan angin topan yang sangat kuat, membanjiri bumi. Mereka yang dulu menolak Nabi Nuh dan tidak beriman, berlarian mencari tempat aman, namun air terus meluas. Akhirnya, semua yang tidak beriman tenggelam dalam banjir besar.

Nabi Nuh dan para pengikutnya yang selamat berada di dalam bahtera yang terus terombang-ambing di tengah ombak. Allah memerintahkan agar hujan dihentikan, dan air mulai surut hingga kapal Nabi Nuh terdampar di pegunungan yang sangat tinggi. Setelah keadaan aman, Nabi Nuh mengucapkan syukur kepada Allah atas perlindungannya. Sebagai bentuk rasa syukur, Nabi Nuh dan pengikutnya berpuasa.

Peristiwa banjir besar ini terjadi pada hari ke-10 Muharam, yang kemudian dikenal sebagai hari Asyura. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, memperjuangkan ajaran yang benar meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut: 14)

Setelah peristiwa besar itu, Nabi Nuh melepaskan burung-burung dan hewan-hewan yang ada di bahtera, dan mereka menyebar ke seluruh penjuru bumi, begitu juga dengan kaum Nabi Nuh yang mulai membangun kembali peradaban.

Dengan begitu, kita bisa melihat betapa besar perjuangan Nabi Nuh dalam menyelamatkan umatnya dari kesesatan, meskipun banyak yang menentangnya. Kisah ini mengajarkan kita tentang kesabaran, keteguhan iman, dan pentingnya mengikuti petunjuk Allah.