Nabi Idris
Nabi Idris alaihissalam dikenal sebagai salah satu nabi yang sangat mulia. Pada masa hidupnya, setelah Nabi Adam wafat, umat manusia mulai tersebar di berbagai penjuru dunia dan berbicara dalam 72 bahasa. Kondisi ini menciptakan tantangan baru, termasuk kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah.
Suatu ketika, kekeringan semakin parah. Banyak orang yang mulai mengeluh karena kesulitan mendapatkan air. Mereka bahkan berdoa kepada dewa api agar hujan segera turun. Namun, doa mereka tidak dikabulkan. Dalam situasi ini, Nabi Idris mengajak kaumnya untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Akhirnya, Allah mengabulkan doa mereka, dan tanah yang semula kering menjadi subur kembali.
Nabi Idris merupakan pribadi yang sangat cerdas. Allah memberikan karunia ilmu yang sangat luas kepada beliau, termasuk ilmu tafsir, hukum, dan astronomi. Beliau juga dikenal sebagai orang pertama yang mampu menulis dan mengajarkan ilmu-ilmu tersebut kepada kaumnya. Selain itu, Nabi Idris mahir dalam menjahit pakaian, dan ia memberikan hasil jahitannya kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa meminta imbalan.
Hari-hari Nabi Idris dipenuhi dengan ibadah kepada Allah. Beliau berpuasa sepanjang hari dan beribadah sepanjang malam. Sifat-sifat mulia beliau menarik perhatian malaikat Izrail, yang kemudian meminta izin kepada Allah untuk bertemu dengan Nabi Idris. Setelah diizinkan, malaikat Izrail datang dalam wujud manusia untuk menemui Nabi Idris.
Suatu hari, Nabi Idris memohon kepada malaikat Izrail untuk merasakan kematian. Meskipun ini adalah permintaan yang berat, malaikat Izrail tidak dapat mengabulkannya begitu saja tanpa izin Allah. Setelah Allah mengabulkan permintaan Nabi Idris, malaikat Izrail pun mencabut nyawanya. Namun, setelah merasakan sakit yang luar biasa, Nabi Idris dikembalikan hidup oleh Allah. Hal ini membuat Nabi Idris semakin tekun beribadah.
Rasa ingin tahu Nabi Idris pun semakin besar. Ia meminta kepada malaikat Izrail untuk membawanya melihat surga dan neraka. Malaikat Izrail mengabulkan permintaannya dan membawa Nabi Idris terbang menembus langit. Ketika sampai di dekat neraka, Nabi Idris melihat penjaga pintu neraka yang sangat menakutkan, membuatnya pingsan. Setelah itu, mereka mengunjungi surga, yang begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris hampir pingsan lagi karena kagum melihat keindahan surga yang tak terlukiskan.
Setelah melihat keduanya, Nabi Idris sangat enggan meninggalkan surga. Namun, Allah mengizinkan Nabi Idris untuk tinggal di langit. Dalam sebuah pertemuan dengan Nabi Muhammad SAW di langit, Nabi Muhammad bertanya kepada malaikat Jibril tentang Nabi Idris, dan malaikat Jibril menjawab bahwa Nabi Idris memiliki banyak amal yang luar biasa.
Nabi Idris disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, yakni dalam surat Maryam (19:56-57) dan Al-Anbiya (21:85-86). Dalam surat Maryam, Allah berfirman:
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا . وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Quran). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)
Dalam surat Al-Anbiya, Allah berfirman:
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ . وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan (ingatlah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’: 85-86)
Dengan demikian, kisah Nabi Idris mengajarkan kita tentang ketekunan dalam beribadah, kecerdasan dalam ilmu, serta kerendahan hati dalam memberikan bantuan kepada orang lain tanpa pamrih.